beberapa hari yang lalu, gue ikut training motivasi di tempat kursus. awalnya gue pikir, isinya bakalan biasa aja, kayak training motivasi sebelumnya yang pernah gue ikutin pas kelas x di sekolah. yah, intinya memang sama, yaitu mengekspos kekuatan alam bawah sadar kita. tapi, entah kenapa training yang kali ini begitu mengena, haha. pelajaran terpenting yang gue dapetin bukan pelajaran eksplisit yang disampaikan kakak-kakaknya ketika training, tapi lebih ke pelajaran kehidupan yang gue dapetin karena pribadi gue saat itu sedang mengalami krisis mental, yang, baru gue sadari ketika menjalani training tersebut.
di salah satu segmen, ada saat dimana kita diminta membayangkan kesuksesan/kebahagiaan yang pernah kita alami di masa lalu, merasakan kebahagiaan tersebut, dan membawa perasaan bahagia itu kembali ke dunia nyata. waktu diminta untuk ngebayangin saat-saat dimana gue paling bahagia, lantas gue bingung.
kapan ya waktu yang menurut gue paling membahagiakan?
waktu itu, gue mencoba mengingat saat-saat gue menang lomba penelitian, saat gue berhasil masuk ke sekolah unggulan, saat gue dapet nilai bagus di sekolah, dapet ranking di sekolah, dan lainnya. tapi, entah kenapa gue rasa gue ngga se-bahagia itu ketika dapet semua hal tersebut. yah, memang sih prestasi yang gue dapet juga bukan prestasi yang keren banget kayak temen-temen sekolah gue lainnya yang berhasil dapet beasiswa ke luar negeri atau menang olimpiade internasional. tapi, buat kadar mereka, bukannya itu juga biasa aja ya? gue nggak tau, tapi siapa tau mereka juga merasakan hal yang sama.
coba deh, kalian bayangin waktu dimana kalian paling berbahagia. coba tanya ke hati kalian masing-masing. nggak perlu bohong ke diri sendiri dan bilang 'yang ini', kalo ternyata hati kalian ngga bilang begitu. soalnya, waktu itu otak gue berkali-kali bilang, 'yang ini' atau 'yang itu', tapi hati gue ngerasa, 'hah? kayaknya waktu itu sebenernya biasa aja deh.'. haha. buat kalian yang udah tau kapan, selamat ya, 'well done' kalo kata adik kelas gue! haha. buat yang belum, berarti permasalahan lo sama dengan gue beberapa hari yang lalu.
oke, gue nggak mungkin kebingungan kayak gitu dan berhanti di titik ke-nggak-tahu-an gue kan? akhirnya waktu istirahat, gue tanya tentang hal itu ke salah satu motivatornya.
"kak, aku sebenernya suka bingung deh kalo ditanya waktu yang paling membahagiakan, yang mana ya?"
"emang kamu ngga pernah ngerasa bener-bener bahagia? hati-hati loh, kalo kamu ngerasa nggak bahagia, mungkin kamu kurang bersyukur atas apa yang udah dikasih ke kamu."
DEG! ha. ha. oh ternyata itu toh. rasanya gue tertusuk banget waktu denger jawabannya dia. dan gue akui, kakak itu bener banget. selama ini, gue termasuk orang yang beruntung karena banyak hal, tapi gue jarang banget bersyukur karena hal-hal itu. gue justru cenderung untuk memikirkan hal-hal yang belum gue punya. gue lebih sering meminta supaya gue bisa dapet ini, itu, hal-hal yang sebenernya ngga terlalu penting. contohnya nih, gue pengen punya mobil sendiri (bukan mobil keluarga) supaya gue bisa bepergian tanpa harus naik kendaraan umum kayak angkot, kopaja, metromini, atau transjakarta. terus, gue juga pengen punya handphone blackberry yang aduhai supercanggih itu, biar gue nggak pake handphone sony ericsson gue yang sering nge-hang. haha. yah, kata orang manusia nggak pernah puas, jadi gue selalu meminta lebih. miris.
padahal, hal-hal kayak gitu justru sebenernya adalah hal yang sepatutnya diinginkan sama orang. kalau kita ubah sudut pandangnya, naik kendaraan umum merupakan kontribusi kita untuk mengurangi pemanasan global. gue nggak mau menciptakan comfort zone sendiri dengan ac di mobil gue (yang bisa jadi, isinya cuma satu orang), tapi membuat bumi di luar mobil gue jadi makin dan makin panas. berarti, bisa jadi orang yang naik kendaraan umum pada dasarnya adalah orang yang lebih baik dari mereka yang naik mobil pribadi kan? terus nih, untuk gue, punya handphone kayak blackberry mungkin malah ngebikin pola hidup gue jadi semakin buruk, kerjanya internetan mulu, bbm-an mulu, atau apalah. lagipula, orang tua gue juga nggak kaya-kaya banget sampe bisa ngebeliin gue blackberry, hoho. yah, lebih baik uangnya disalurkan untuk hal lain, mungkin. misalnya, untuk tabungan naik haji?
balik lagi ke masalah bersyukur. selama ini, gue kurang banget bersyukur atas apa yang udah gue terima. salah satu yang paling utama adalah keluarga. baru aja, sekitar satu menit yang lalu, gue menutup telepon dari kakek gue yang tinggal di Bogor. gue emang nggak teleponan lama sama kakek gue, dan beliau cuma menanyakan, "tari, gimana kamu lulus uan?". subhanallah, baik banget kan kakek gue itu? gue sekarang sampe mau nangis. udah, bahkan. haha. duh, sisi melankolis gue yang jarang ditunjukkan di depan orang banyak, haha. gue tadi seneng banget ngedenger kakek gue tertawa bahagia di ujung telepon. beliau bilang, "alhamdulillah, tadi akas* ngeliat berita di tv, banyak yang nangis karena nggak lulus uan". segitu pedulinya kakek gue sama gue, ya Allah, padahal selama ini gue nggak pernah nelepon beliau untuk sekadar nanyain kabar. orang tua, apalagi. gue inget banget waktu gue nggak berhasil tembus ppkb ui, ayah gue yang lagi di luar kota sms ke gue, isinya, "nggak apa-apa dek. masih banyak jalan lain". ibu, wah lebih lagi. memang nggak banyak kata-kata melankolis atau sms atau apalah yang ibu gue omongin ke gue. tapi perbuatan beliau layaknya perbuatan bidadari surga. subhanallah, beliau adalah orang paling sabar dan paling hebat yang pernah gue tau. yah, kata-kata kayak gini memang sering banget diucapkan orang, tapi gue serius.
bodohnya, gue baru menyadari hal sepenting ini beberapa hari yang lalu. memalukan. tapi well, terlambat itu lebih baik daripada tidak samasekali kan? walaupun, lebih baik lagi kalau kita nggak terlambat, hehe.
karena sudah cukup tersadarkan akan hal itu, gue akhirnya memutuskan untuk selalu bersyukur atas apa yang udah gue peroleh. gimana caranya? yah, gue belum sehebat itu untuk bisa shalat tahajjud tiap hari, shalat dhuha tiap hari, puasa senin-kamis rutin tiap minggu, ngaji minimal tigapuluh menit sehari, dan perbuatan lainnya. tapi ada satu hal yang gue ubah, mulai dari hari itu. mungkin bagi kalian ini bukan suatu hal yang besar, tapi gue berharap perbaikan yang kecil ini bisa membuat gue menjadi orang yang lebih banyak bersyukur.
perubahan itu adalah, berdzikir setelah shalat. haha. mungkin kalian yang baca ini memang selalu berdzikir setelah shalat ya? maaf kalau gue sedikit terlambat. selama ini, gue lebih sering hanya berdoa setelah shalat, dan melupakan bagian dzikirnya. padahal, ketika berdzikir, kita mengagungkan nama Allah, dan itu berarti membuat Ia senang 'kan? gue rasa, itu salah satu ungkapan terima kasih gue untuk Allah. dan di akhir doa gue, gue akan selalu bilang, "ya Allah, terima kasih atas karunia yang telah Engkau berikan pada kami, terima kasih ya Allah. terima kasih."
gue nggak tau, seberapa penting ucapan terima kasih gue itu di hadapan Allah. tapi bagaimana pun, gue merasa hidup gue lebih bahagia dan lebih bermakna ketika gue sudah bisa memaknai rasa syukur akan karunia-Nya.
----------------------------------------------------------------------------------------
oiya, di segmen akhir training itu, gue diminta untuk membuat surat buat orang tua gue. yah, metode seperti ini, biasa lah. haha. tapi jujur, ini pertama kalinya gue ngebuat surat kayak gitu loh. intinya ucapan terima kasih untuk orang tua. sampai saat ini, gue masih belum berhasil mengumpulkan keberanian gue untuk ngasih surat itu ke orang tua gue, tapi gue berniat post disini. siapa tau, ngga sengaja ayah gue ngebuka blog ini dan bisa ngeliat tulisannya. who knows?
Jakarta, 25 April 2010
Assalamualaikum wr. wb.
Ayah, Ibu, aku sayaaang banget sama Ibu dan Ayah.
Makasih ya, Bu, udah nyiapin sarapan buat aku tiap hari.
Ayah, makasih udah mau anter-jemput aku kemana-mana.
Maafin aku ya, karena suka ngambek, marah-marah, sebel, nggak mau disuruh, dan semuanya. Maaf ya aku nggak bisa ngebales jasa kalian. Maaf!
Makasih.
Aku sayang sama Ibu dan Ayah. Sayaaang banget.
Wassalamualaikum wr. wb.
jelek banget ya? nggak puitis samasekali. tapi gue emang bukan orang yang begitu, sih. yang penting, gue jujur ketika menulisnya. tulisan itu jujur. mungkin itu sebuah poin penting dalam tulisan ya? gue juga kurang tau.
No comments:
Post a Comment