"Honesty is the best policy"
Itu kata-kata yang terpampang di papan yang digantung di salahsatu koridor sekolah gue waktu SMA. Awalnya gue bingung apa maksudnya, karena setau gue policy itu artinya aturan. Well, setelah belajar bahasa Inggris lebih banyak, akhirnya gue ngerti juga bahwa policy di sini itu maksudnya "sikap". Oke, ngga perlu ngebahas bahasa disini, tapi beberapa hari ini gue belajar bahwa memang kejujuran itu memang penting.
Di universitas gue, UI, ada banyak anak-anak usia SD yang jualan koran. Gue ngga suka baca koran. Tapi suatu hari, ada kejadian yang membuat gue rasanya ingin sekali memborong koran dari anak-anak itu. Kenapa?
Empat hari yang lalu, kalo ngga salah, gue naik bikun dan disana ada tiga orang anak yang ikut naik dan berdiri di sebelah Pak Supir (agak ke kiri lebih tepatnya, jadi mereka berdiri dekat pintu), dan saat itu gue duduk di kursi ketiga di belakang supir. Awalnya gue nggak memperhatikan mereka, tapi karena suara mereka yang keras dan pembicaraannya yang seru, lama-lama gue jadi ikut mendengarkan.
Ketiga anak itu berbicara banyak hal, mulai dari taruhan banyak tidaknya mahasiswa yang naik di halte fakultas tertentu, bercandaan, bahkan sampai hal-hal yang menurut gue sangat hebat, mereka mambicarakan penemuan baru yang bisa bermanfaat. Sebenarnya gue lupa apa, tapi intinya mereka mau menciptakan suatu alat baru. Hebat kan? Mereka juga banyak bercanda dengan pak supir, mereka bilang :
Anak A : "Apa bedanya Pak X (nama supir) dan Pak Y (nama supir juga)?"
Anak B : "Sama-sama gendut!"
Anak A : "Yeh, orang ditanya bedanya! Hahaha"
Anak A : "Kalo Pak X, udah gendut, item, hidup lagi! Hahahaha"
Bercandaan yang sederhana dan sebenarnya tidak terlalu lucu, menurut gue, tapi itu membuat pak supir tertawa terbahak-bahak. Banyak lagi bercandaan yang mereka katakan, tapi ngga semuanya gue inget. Yang gue suka dari mereka adalah cara bicara mereka yang polos, apa adanya.
Gue jadi merasa simpati dan terharu, mereka dengan rumahnya yang gue yakin ngga senyaman rumah gue, uang jajannya yang belum tentu dapet sehari, pakaian mereka yang kotor, sendal yang udah aus karena seharian jualan, dan mereka yang gue yakin lebih capek dari gue karena pulang sekolah harus jualan sampe malem, bisa sebahagia itu. Betapa gue kembali diingatkan untuk terus bersyukur. Alhamdulillah.
Nah, kepolosan mereka inilah yang menggugah gue untuk bersimpati, dan membuat gue rasanya ingin sekali membahagiakan mereka dengan setidaknya membeli koran yang mereka jual. Tapi sayangnya, gue akhirnya ngga membeli koran mereka karena gue turun di stasiun dan mereka tetap di dalam bis.
Kontras dengan kejadian tadi sore. Seorang anak penjual koran menawarkan koran jualannya di bikun. Tapi gue enggan banget untuk membeli korannya, kenapa? Karena gue rasa dia terlalu mengada-ada dan perkataannya terdengar berbohong.
"Ini uangnya untuk beli buku sekolah kak"
Gue rasa itu cuma alasan aja, terasa banget kebohongannya. Seandainya dia polos aja, bilang jualannya ngga laku dan dia perlu cepat pulang atau apalah, yang jujur, gue rasa gue akan beli korannya. Akhirnya gue terus menolak, tapi karena kasihan akhirnya gue kasih uang, tanpa mengambil koran yang dia jual. Harganya sebenarnya ngga mahal, cuma dua ribu, tapi entah kenapa gue merasa cukup terpaksa mengeluarkan uang gue.
Kalau dipikir-pikir lagi, rasanya ngga adil kan? Anak-anak yang polos itu endingnya ngga dapet uang dari gue, sementara anak yang agak ngga gue suka malah dapet uang dua ribu. Tapi gue rasa, yang penting disini bukan cuma materi, gue yakin anak-anak polos itu dapet pahala karena udah membahagiakan dan menginspirasi orang lain. Lagipula, sikap gue menjadi sangat berbeda ketika menghadapi kedua tipe anak ini, yang polos membuat gue senang, bahkan membuat gue ingin membeli koran mereka tanpa mereka tawarkan, sementara yang kurang jujur, membuat gue terganggu dan enggan untuk membeli korannya.
Poin penting disini, kejujuran itu pasti memberi efek positif untuk diri kita, jadilah diri sendiri apa adanya, nggak perlu memoles sana-sini demi mendapatkan hal yang diinginkan. Jujur, juga karena Allah tau apa yang kita lakukan, karena Dia Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar.
kata-kata yang datang dari hati yang jujur, tentu akan sampai ke hati di ujung satunya.
ReplyDeletefadma menyukai ini
ReplyDeleteBercandaan yang sederhana dan sebenarnya tidak terlalu lucu, menurut gue, tapi itu membuat pak supir tertawa terbahak-bahak
kalo mau lucu ancur, kunjungi
http://kopimiring.blogspot.com/